Posted in Tulisan

Si Kaki Penyangkal

Si kaki tidak bisa melangkah

Bahkan ia sendiri pun tidak tahu kodratnya
Atau tak ingin tau, tak ingin menerima

Penyangkal mungkin segera jadi nama belakangnya

Biar nanti ada reflek yang membuatnya berlari tanpa berpikir
Agar ia sadar bagaimana seharusnya ia hidup dan menghidupi yang lainnya

Posted in Tulisan

Undur Diri

Sebelum hari berganti menjadi 3 September 2016, saya mengirimkan pesan itu.

Ternyata, seberat ini. Hidung saya sepertinya jadi lecet.

Mungkin ini keputusan terbesar yang pernah saya ambil? Keputusan untuk meninggalkan sesuatu.

Adelia ini sudah makin berani ambil keputusan ya. Mulai mengenal kata pergi. Sudah berani merencanakan me
pertanggungjawaban atas inisiatifnya.

Oh Havas, saya pikir kedatangan saya di sore 5 Juni 2015 itu akan berakhir tanpa bekas. Oh tidak, sampai kiranya akan mengerak.

Busukmu Baik Baikmu. Bagaimana bisa aku melihat. Teman-teman, jangan jadikan ini satu arah. Walaupun pasti begitu kedepannya.

Jangan biarkan saya hanya bersenda gurau bersama memori. Terima kasih untuk kebersamaannya. Karena kita bersama, kita sama.

Posted in Beauty, Penulisan Populer, Review, Tulisan

My Make Up Pouch

Oke, jadi gini; gue merasa blog ini sudah begitu jarang memosting hal-hal informatif. Oleh karenanya, gue mencoba membangkitkan lagi blog ini nih—sekalian coba-coba trik SEO juga sih. Mungkin gue telat sekali ya, baru mulai review make up di blog saat ini sementara para beauty blogger di luar sana bahkan sudah buat koloni baru sebagai vlogger. Tapi karena gue lebih cincah (iya, maksudnya cinta) menulis ketimbang cuap-cuap, jadi gue pilih nulis aja meski sudah telat beberapa dekade silam.

So, yeah. Sejak kuliah memang gue sudah sedikit-sedikit kenalan sama make up ya. Dari mulanya hanya krim pelembab, lalu eye liner, hingga akhirnya punya lebih dari satu pewarna bibir. Sekarang sudah jadi mba-mba 9 to 6 alias pekerja yang masuk jam 9 pagi dan pulang jam 6 sore, gue sudah punya pouch make up sendiri loh. Yeay!

Daily make up gue tiap harinya sama sih, ya namanya juga daily make up ya boo. Tapi sebenernya kalau ada acara heboh pun ga beda jauh dengan daily make up sih, karena memang make up yang gue punya itu-itu doang. Buat yang pemula dan mau coba-coba make up, boleh nih contek isi pouch gue beserta urutan pengaplikasiannya. Cus ah kita ceki-ceki Sis..

#1 Wardah Hydrating Aloe Vera Gel

Ya, jadi inilah zat pecantik pertama yang mendarat di wajah gue setelah selesai mandi. Gel ini bentuknya gel, iya dong, dengan warna transparan. Gunanya untuk melembabkan dan menghaluskan kulit wajah. Produk ini banyak mendapat review positif loh. Ditambah lagi harganya yang relatif murah sekitar Rp 35,000-38,000 aja kok. Keunggulannya lagi, gel ini ga cuma untuk wajah, dia bisa diaplikasikan ke seluruh tubuh. Ntaps kan!

#2 Whitening Essence Sunscreen Seol Line by History of Whoo

Satu-satunya produk import Korea yang gue pake, hasil perburuan di online shop yang . Jadi, dia dipakai setelah aloe vera gel dari Wardah tadi, tapi belakangan gue skip step #1 sih jadi essence ini yang pertama nempel di muka gue. Mungkin essence ini bisa gue kategorikan ke skin care kali ya, karena dia lebih ke merawat daripada mempercantik secara instan gitu. Setelah pemakaian teratur 1-2 minggu, wajah gue jadi lebih cerah alami. Buat gue ini krim ajib sih, harganya juga ajaib. Untuk full size itu harganya 700k, 800k, atau lebih gitu. Tapi gue bisa mendapatkannya hanya dengan 8k rupiah saja! Penasaran kan, penasaran kan, ya kan, ya dong..  maka itu, baca full review buat produk ini ya.

#3 Pom-Pom Cheek

Sebelumnya, gue hanya menggunakan lip balm untuk blush on sampai akhinya gue mendapatkan blush on ini. Blush on mungil ini dikasih sama manager gue yang habis liburan ke Jepang. Meski liburannya ke Jepang, tapi oleh-olehnya Made in China loh. Yes, C.H.I.N.A. mereka bisa buat apa aja, kan? Mulanya agak skeptis sih tapi kemudian pas dicoba.. Uh suka banget! Ngeblend banget di kulit gue. Berasa alami gitu, ga lebay. Shadenya juga cocok banget. Punya gue ini shade Rasphberry kalau ga salah inget ya, jadi yang agak gelap, kalau yang terang itu shade Cherry. Oh ya, mulanya gue suka pakai blush on di tulang pipi atas, tepat di bawah kantung mata, lalu ditarik horizontal ke arah telinga. Ala-ala orang mabuk gitu lah. Tapi belakangan gue lebih suka pakai blush on dari ‘telur pipi’ lalu melengkung ke arah telinga—telur pipi, itu loh, yang kalau kita senyum, ada bagian yang membulat kan, gue bilangnya sih telur pipi. Cara pengaplikasian itu buat pipi kita jadi terkesan kencang dan gak tumpah-tumpahan. Sayangnya, gue ga tau harga dan belinya di mana karena namanya juga dikasih. Tapi kalau blush on ini habis atau hilang, gue akan sedih tentunya😦

#4 Me Now Gen-II Eyebrow Powder

Sesungguhnya, gue ga paham ini merk apa. Ga tau juga yang gue punya ini tiruan atau asli. Jadi, apa perlu gue tulis ‘unbranded’? Ya, pokoknya gue nemu ini ada di meja rias, kayaknya punya nyokap yang asal beli gitu. Gue coba aja dan berakhir pada gue repurchase barang ini. Ya, gue akui gue cocok sekali dengan eyebrow powder ini. Bentuknya seperti eye shadow yang solid, dilengkapi juga dengan mini brush yang cucok banget. Yang pali gue suka adalah warnanya, pas banget untuk natural look. Satu kemasan ada dua warna, hitam dan cokelat. Agar lebih alami, gue pakai yang cokelat. Warna cokelatnya cocok hampir di semua warna kulit Indonesia menurut percobaan yang gue lakukan pada beberapa temen gue. Kalian bisa beli eyebrow powder ini di toko kosmetik pinggiran semacam di Depok Town Squre kok. Harganya ga mahal, cuma Rp 35,000 saja.

#5 Maybelline Gel Eye Liner Lasting Drama

Tunggu kelanjutannya ya!

 

Posted in Tulisan

Kami dan Senin

Demi Senin yang banyak dibenci orang,
tolonglah anak kebingungan ini.
Serpihan nominal dan tuntutan lain yang saling tubruk.
Lepaskan ia untuk mencerca apa yang semestinya ia cerca.

Bagi kalian yang bisa menolong—tak apa jika kalian bukan senin, atau tidak begitu dibenci orang

Tolonglah anak ini…

Posted in Uncategorized

Sore itu kelas seni peran dimulai. Semua mengambil bagiannya masing-masing, sesuai porsi: tidak ada yang serakah, tidak ada yang bederma. Panggung kecil mengundak di setengah bidang kelas. Dihias lampu-lampu temaram, oranye meneduhkan sekaligus misterius.

Bising di kanan-kiriku melantunkan irisan-irisan kata dari naskah yang entah siapa penulisnya. Termasuk aku, ribut mencari highlight pada naskah, ‘mana bagianku?‘. Baru sekilas mata kutangkap highlight kuning, sekonyong-konyong sinar matahari menyerang ruangan membabi buta. Panggung pun hilang, digantikan dengan papan tulis putih yang menggantung mantap di dinding. Kebisingan hanyut, mengantar kehadiran seorang di belakangku:

          ‘Dia tidak datang lagi?’ sapaku, tidak bermaksud menyapa.

                 ‘Mungkin Dia sakit, begitu yang ku tahu.’

          ‘Sudah lama dia tak terlihat di sini. Apa sakitnya benar-benar serius?’

                 ‘Kenapa tidak coba kau hubungi?’

Langkah kakiku makin cepat membelah kerumunan pedagang yang semerawut di pinggir

————–matikan layarmu sejenak, kisah ini belum berakhir—————–

Posted in Tulisan

Ini tulus, kok bisa?

Saya selalu merasa kalimat ‘bahagia ketika melihat orang lain bahagia‘ itu sebuah omong kosong yang besarnya lebih besar dari (omong kosong) dadanya Julia Perez atau bokongnya Dewi Persik. Ya, pokoknya begitulah! Saya merasa itu kata-kata munafik.

Eh, tapi kok.. saya bisa merasakannya loh! Jadi, ternyata itu bukan kata-kata yang munafik ya? Mungkin saya yang terlalu picik pikirannya terhadap ketulusan dan kebaikan manusia-manusia yang hidup di bumi ini. Tsah.

Ya, jadi saya begitu bahagia loh lihat teman-teman saya diwisuda! Beberapa hari sebelumnya bahkan lebih terharu lagi saat melihat foto gladi bersih mereka—nanti saya tambahkan fotonya!—ini dia fotonya! Saya ambil dari akun instagram @galuhfathim.

Wisuda

Bagaimana ya menjelaskan perasaan ini, seperti… ada yang bisa menjelaskannya dengan lebih terlihat tulus? Agar orang-orang yakin, saya benar-benar ikut berbahagia atas itu!

Cerita serunya begini, pada sabtu yang berbadai itu saya dan beberapa teman lain (sebut saja Nona M, Nona A, dan Nona D) menyiapkan kado-kado lucu untuk teman-teman wisudawati di kamar kost Nona M. Tentunya, kami tidak akan mengira bahwa hujan akan turun dengan begitu semangatnya seperti semangat kami untuk melihat langsung teman-teman kami diwisuda. Sepertinya kami membuat kado terlalu, hmm.. lama ya? Karena kami sampai tidak sempat makan, atau memang tidak menyempatkan makan, atau memang kami malas untuk mencari asupan bagi perut indah kami yang semakin bulat menggemaskan ini. Pokoknya, tidak makan itu salah kami.

Seusainya kado dibungkus seadanya dengan cantik, kami begitu berbulat tekad untuk ‘Yuk, pergi sekarang. Ga enak yang lain sudah nunggu’ lalu Nona D bilang ‘Yakin? Itu ujan gede banget!’ CETAR! CETAR! Eh iya loh, hujannya deras sekali… tapi mau bagaimana lagi? Menunggu hujan reda? Keburu teman-teman wisudawati kami yang cantik-cantik di sana kelelahan dan kembali ke sarangnya masing-masing. Tidak bisa, tidak bisa! Kami harus tetap menerjang badai. Untungnya kami saya bodoh, saya lupa menyimpan sepatu ke dalam ruangan, alhasil sepatu saya terendam dam dam air hujan. Kenapa saya bilang untung? Karena sepatu yang terlanjur basah itulah, saya tidak lagi perlu ragu untuk menerjang badai (badai beneran ya, bukan badai: perempuan cantik nan molek).

Kami berempat lalu berjalan melawan arus banjir mungil di jalan yang menurun, kecipak-cipuk di kubangan kecil yang menggemaskan. Sial bagi Nona D yang payungnya bocor. Rambutnya lepek! Ditambah, ia pakai wedges. Sulit sekali. Lalu Nona D menumpang payung Nona M. Nona A dan saya ada di baris terdepan, apa kami terlihat tangguh? Bilang iya saja! Saya memeluk beberapa kado, tas, dan beberpa barang berat lainnya di dada saya. Sepertinya jaringan otot lengan saya rusak, karena setelahnya saya merasa begitu gemetar dan ngilu di bagian lengan. Terdengar dramatis tidak ‘jaringan otot lengan saya rusak’? Habis, Mahasiswa Biologi di rumah saya menyebut begitu untuk kondisi yang saya alami: otot linu.

1
Gadis-Gadi Penerjang Badai

Air jatuh dari langit maupun yang sudah menggenang atau mengalir di tanah yang menghantam dan dihantam kami tidak menurunkan hasrat menuju gedung bersejarah bagi jutaan orang yang pernah menyandang predikat ‘Mahasiswa Kampus Perjuangan’. Tada! Kami pun sampai. Tapi.. di mana Ratu-Ratu kami? Setelah berjibaku dengan cicit-cicit Adam-Hawa lainnya kami pun menemukan sekumpulan wajah yang kami kenal meski sudah dibubuhi bedak dan gincu-gincu lucu. Ada Nona N, Nona J, Nona P, dan Nona N2 beserta kekasih di sana. Kami berpelukan. Ah…… bahagia rasanya. Gemas melihat mereka. Ingin rasanya berteriak ‘INI TEMEN GUE WOY! MEREKA WISUDA WOY!’. Tapi.. tapi lagi.. tidak semua ada di sana. Tidak ada Nona F dan Nona N3. Ya, harusnya saya mengerti, seperti yang saya katakan pada salah satu dari mereka beberapa hari sebelumnya ‘Wisuda memang acara dengan kelurga’.

Meski tidak terlalu sesuai yang gambaran yang meletup-letup di benak saya, tetap saja saya senang sekali! Lalu supaya kekinian, kami juga berfoto ria. Kami juga bergabung dengan adik-adik serta kakak-kakak dari Jurusan Pengenang Masa Lalu lainnya. Sekali lagi, disayangkan sinyal busuk serta berbagai keadaan. Tidak semua teman berkumpul di sana dalam waktu yang bersamaan. Seharusnya ada: 14 orang wisudawan/wisudawati, beberapa Sarjana Humaniora, dan beberapa Calon Sarjana Humaniora (seperti semester lalu, saat saya yang bertoga). Tidak apa, karena jangan buat ketidaksempurnaan merusak kebahagiaan yang telah lahir untuk disyukuri.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sekali lagi, selamat ya teman-teman cantikku! Ga’ tahu kenapa, Aku turut berbahagia atas kalian!

Ini tulus loh.

Nb: semakin diungkit ‘ini tulus’ makin terasa tidak tulus. lalu bagaimana seharusnya?

Posted in Tulisan

Teman Lagi!

Hari ini saya mendengar adzan Subuh sebelum saya tidur. Ya, saya baru terlelap sekitar pukul 5 pagi dalam keadaan mata yang masih sulit terpejam. Begitu bersemangat hingga tidak terlalu mengantuk! Dua jam kemudian saya terbangun, dan hingga saat ini—sekitar pukul 10, saya belum lagi tidur.

Saya masih menggebu akibat percakapan panjang dengan salah seorang teman hingga Subuh tadi. Bukan, bukan teman juga sih awalnya. Bahkan kami hanya bertemu beberapa kali. Tapi di setiap pertemuan, kami selalu mengobrol panjang lebar untuk mengurangi kecanggungan (entah bagaimana saya bisa menjadi begitu berisik di depan orang yang baru saya kenal), dan kebiasaan ini berlanjut hingga ke ranah per-chat-an.

Sudah lama tidak begitu intens bertukar cerita dengan orang. Cerita-cerita sepele, dia menyebutnya ini menunjukan sisi kemanusiaan dan kenormalan seseorang, ‘Lucu’, katanya. Kami bercerita banyak, entah tentang apa hingga sampai pada bahasan mengenai hubungan dengan orang yang pernah berbagi rasa dengan masing-masing dari kami (mari sebut saja Cewek 1 untuk mantan pacar dia, dan Cowok 1 serta Cowok 2 untuk xxxxxx pacar saya).

Mulanya, tidak banyak yang saya ceritakan, hanya jadi pendengar saja. Semua cerita-ceritanya begitu saja tertata rapih di kepala saya menjadi potongan-potongan adegan, namun dengan pemerannya adalah saya dengan Cowok 1 atau Cowok 2. Tanpa menghilangkan simpati, saya terus menerka apakah si Cowok 1 atau Cowok 2 berpikir sama juga seperti dia. Bagaimana? Saya penasaran! Bisa saya tanyakan langsung pada mereka? Sambil menyelam, minum air. Saya jadi bercermin dengan apapun kisah dia  dan Cewek 1 yang dituturkan itu. Lagi-lagi, entah bagaimana, disertai pikiran sadar saya menemukan banyak celah baru untuk merekonstruksi berbagai adegan yang tidak pernah saya ketahui mengenai apa yang Cowok 1 (khususnya) pikirkan setelah hari yang hampir saya lupakan itu. Dari kisah yang dia tuturkan itu pula untuk waktu yang sangat langka, saya kembali mendeklarasikan dengan lapang dada bahwa saya turut pula memegang andil dari berakhirnya sebuah-dua buah status.

Saat giliran saya bercerita, suksesnya, saya berkata begitu jujur! Begitu jujur dengan kebingungan yang saya alami. Dia berkata saya sedang berada di masa peralihan, saya orang yang menyenangkan untuk diajak berbagi kisah. Lalu, bagaimana itu bisa menjadi jalan keluar? Bagaimana jika, sekali lagi saya katakan: Bagaimana jika orang yang saya harapkan menjadi Pangeran justru hanya menjadi Pengawal saya karena ia terlalu nyaman berbagi kisahnya dengan saya? Istilah kekiniannya, friendzone.

Malam dini hari itu memang bukan solusi yang kami butuhkan. Jadi kami tidak ambil pusing. Khususnya untuk saya, apa yang saya ceritakan bukanlah hal baru atau rahasia baru yang hanya dia saja yang tahu. Tapi, kisah pribadinya dan tanggapan darinya yang justru memantulkan berbagai warna baru untuk kisah saya yang telah lalu. Banyak hal yang bisa yang renungkan karena percakapan panjang semalam. Yang jelas, sekarang saya akan berusaha untuk membuat memori baru yang membahagiakan untuk memendam memori lama! Semoga si memory-maker itu tidak kemudian ‘mengawal’ saya ya🙂

Terima kasih untuk sharingnya, hei teman baru.

Yeay, punya Teman Lagi!