Diposkan pada Tulisan

A.N.F.

This guy!!

Bahkan saya tidak benar-benar punya diksi yang tepat untuk anak ini. Umurnya 25 tahun—tahun ini, lalu apa? 

Segalanya jadi menggemaskan jika berkenaan dengannya. Pikiran randomnya, ya mungkin semua orang punya, tapi miliknya begitu lucu. Ditambah pipinya (sst, yang berminyak) yang jauh lebih besar dari telapak tangan saya. Apa apa apa. Apa apa apa.

Gemasnya.

Sampai tidak tahu harus menulis apa.
Ini beberapa foto yang saya ambil. Dia lucu. Lucu.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ada foto saat kami pergi ke IIMS 2017. Dia benar-benar gembira, saya pikir. Tingkahnya seperti anak kecil yang diajak pergi ke toko mainan. Dia mencoba berbagai macam mobil, hingga truk sampah!

Lalu, saat kami ingin pergi entah ke mana—sudah terlalu sering kami berpergian 14 bulan terakhir ini, dia masih harus mengerjakan pekerjaan kantornya melalui ponsel. Tak apa, dia anak pandai. Saya yakin dia dapat dan patut diandalkan.

Ada pula saat ia tidur di balik kemudinya. Kami senang sekali menghabiskan waktu di kawasan Stadion Pakansari, kami sering melakukannya. Banyak jajanan murah dan enak di sana. Kami membeli beberapa jajanan, berkeliling, lalu memarkir mobil di sembarang. Sambil melahap jajanan—favorit saya adalah baso goreng, kami mengobrol seakan hanya itu waktu yang kami miliki untuk mengobrol. Setelah semua jajanan habis, kami pun kenyang dan tidur adalah pilihan yang baik kan? Ya, tidur di pinggir jalan. Ha ha ha.

Ada fotonya saat membantu saya mengetik sebuah dokumen. Lokasinya di salah satu kafe di daerah Tebet. Mukanya begitu serius, dan mungkin sedikit kesal(?) karena saya tidak benar-benar serius mengerjakan pekerjaan saya. 😅

Lain hari, kami pergi lagi ke daerah Tebet. Kali ini dia yang mengajak. Saya memilih makan pizza—walau awalnya ia ingin burger. Sayang, restorannya begitu panas.

Saya memotretnya saat ia beribadah di kamar adik saya. Hanya iseng saja. 👻

Terakhir, ada foto kami di Taman Budaya Sentul. Saat itu adalah perayaan satu tahun hari jadi kami. Kami makan di Gulliani, saya sungguh suka gnocchinya! Di foto itu, dia sedang memandang hamparan hijau lapangan dan pepohonan sambil tangannya mendarat di kepala saya. Mengapa saya begitu lemah terhadap perlakuan itu. Seperti anak anjing yang kepalanya ditepuk tuannya. Senang.

Diposkan pada Tulisan

Baby Juno

image

Baby Juno yang terkasih,

Meski hanya bisa mengeong, taukah kamu Juno, ada makhluk yang dapat berpuisi telah kepalang iri padamu.

Jika aku jadi kamu malam ini, meski begini mengantuknya, aku tidak akan tidur.

Sst..
Apa pintu kamarnya terbuka?
Bagaimana jika coba masuk ke dalamnya, dan melompat ke atas kasur empuknya.

Ya, seperti itu!
Dengan santai-santai kucing, menggeliat geli lalu terlelap seperti itu. Persis seperti itu, Juno!

Andai aku jadi kamu malam ini!

Diposkan pada Tulisan

Konyol, Sungguh.

 

ladder

Hidup ini konyol.

Seperti saat aku dengar kabar bapakmu.
Meninggal karena jatuh dari tangga.

Mengapa mati semudah itu?
Apa dulu Ibunya—nenekmu, semudah itu juga melahirkannya?

Hidup itu konyol.
Sungguh.

Diposkan pada Tulisan

Si Kaki Penyangkal

Si kaki tidak bisa melangkah

Bahkan ia sendiri pun tidak tahu kodratnya
Atau tak ingin tau, tak ingin menerima

Penyangkal mungkin segera jadi nama belakangnya

Biar nanti ada reflek yang membuatnya berlari tanpa berpikir
Agar ia sadar bagaimana seharusnya ia hidup dan menghidupi yang lainnya

Diposkan pada Tulisan

Undur Diri

Sebelum hari berganti menjadi 3 September 2016, saya mengirimkan pesan itu.

Ternyata, seberat ini. Hidung saya sepertinya jadi lecet.

Mungkin ini keputusan terbesar yang pernah saya ambil? Keputusan untuk meninggalkan sesuatu.

Adelia ini sudah makin berani ambil keputusan ya. Mulai mengenal kata pergi. Sudah berani merencanakan me
pertanggungjawaban atas inisiatifnya.

Oh Havas, saya pikir kedatangan saya di sore 5 Juni 2015 itu akan berakhir tanpa bekas. Oh tidak, sampai kiranya akan mengerak.

Busukmu Baik Baikmu. Bagaimana bisa aku melihat. Teman-teman, jangan jadikan ini satu arah. Walaupun pasti begitu kedepannya.

Jangan biarkan saya hanya bersenda gurau bersama memori. Terima kasih untuk kebersamaannya. Karena kita bersama, kita sama.

Diposkan pada Beauty, Penulisan Populer, Review, Tulisan

My Make Up Pouch

Oke, jadi gini; gue merasa blog ini sudah begitu jarang memosting hal-hal informatif. Oleh karenanya, gue mencoba membangkitkan lagi blog ini nih—sekalian coba-coba trik SEO juga sih. Mungkin gue telat sekali ya, baru mulai review make up di blog saat ini sementara para beauty blogger di luar sana bahkan sudah buat koloni baru sebagai vlogger. Tapi karena gue lebih cincah (iya, maksudnya cinta) menulis ketimbang cuap-cuap, jadi gue pilih nulis aja meski sudah telat beberapa dekade silam.

So, yeah. Sejak kuliah memang gue sudah sedikit-sedikit kenalan sama make up ya. Dari mulanya hanya krim pelembab, lalu eye liner, hingga akhirnya punya lebih dari satu pewarna bibir. Sekarang sudah jadi mba-mba 9 to 6 alias pekerja yang masuk jam 9 pagi dan pulang jam 6 sore, gue sudah punya pouch make up sendiri loh. Yeay!

Daily make up gue tiap harinya sama sih, ya namanya juga daily make up ya boo. Tapi sebenernya kalau ada acara heboh pun ga beda jauh dengan daily make up sih, karena memang make up yang gue punya itu-itu doang. Buat yang pemula dan mau coba-coba make up, boleh nih contek isi pouch gue beserta urutan pengaplikasiannya. Cus ah kita ceki-ceki Sis..

#1 Wardah Hydrating Aloe Vera Gel

Ya, jadi inilah zat pecantik pertama yang mendarat di wajah gue setelah selesai mandi. Gel ini bentuknya gel, iya dong, dengan warna transparan. Gunanya untuk melembabkan dan menghaluskan kulit wajah. Produk ini banyak mendapat review positif loh. Ditambah lagi harganya yang relatif murah sekitar Rp 35,000-38,000 aja kok. Keunggulannya lagi, gel ini ga cuma untuk wajah, dia bisa diaplikasikan ke seluruh tubuh. Ntaps kan!

#2 Whitening Essence Sunscreen Seol Line by History of Whoo

Satu-satunya produk import Korea yang gue pake, hasil perburuan di online shop yang . Jadi, dia dipakai setelah aloe vera gel dari Wardah tadi, tapi belakangan gue skip step #1 sih jadi essence ini yang pertama nempel di muka gue. Mungkin essence ini bisa gue kategorikan ke skin care kali ya, karena dia lebih ke merawat daripada mempercantik secara instan gitu. Setelah pemakaian teratur 1-2 minggu, wajah gue jadi lebih cerah alami. Buat gue ini krim ajib sih, harganya juga ajaib. Untuk full size itu harganya 700k, 800k, atau lebih gitu. Tapi gue bisa mendapatkannya hanya dengan 8k rupiah saja! Penasaran kan, penasaran kan, ya kan, ya dong..  maka itu, baca full review buat produk ini ya.

#3 Pom-Pom Cheek

Sebelumnya, gue hanya menggunakan lip balm untuk blush on sampai akhinya gue mendapatkan blush on ini. Blush on mungil ini dikasih sama manager gue yang habis liburan ke Jepang. Meski liburannya ke Jepang, tapi oleh-olehnya Made in China loh. Yes, C.H.I.N.A. mereka bisa buat apa aja, kan? Mulanya agak skeptis sih tapi kemudian pas dicoba.. Uh suka banget! Ngeblend banget di kulit gue. Berasa alami gitu, ga lebay. Shadenya juga cocok banget. Punya gue ini shade Rasphberry kalau ga salah inget ya, jadi yang agak gelap, kalau yang terang itu shade Cherry. Oh ya, mulanya gue suka pakai blush on di tulang pipi atas, tepat di bawah kantung mata, lalu ditarik horizontal ke arah telinga. Ala-ala orang mabuk gitu lah. Tapi belakangan gue lebih suka pakai blush on dari ‘telur pipi’ lalu melengkung ke arah telinga—telur pipi, itu loh, yang kalau kita senyum, ada bagian yang membulat kan, gue bilangnya sih telur pipi. Cara pengaplikasian itu buat pipi kita jadi terkesan kencang dan gak tumpah-tumpahan. Sayangnya, gue ga tau harga dan belinya di mana karena namanya juga dikasih. Tapi kalau blush on ini habis atau hilang, gue akan sedih tentunya 😦

#4 Me Now Gen-II Eyebrow Powder

Sesungguhnya, gue ga paham ini merk apa. Ga tau juga yang gue punya ini tiruan atau asli. Jadi, apa perlu gue tulis ‘unbranded’? Ya, pokoknya gue nemu ini ada di meja rias, kayaknya punya nyokap yang asal beli gitu. Gue coba aja dan berakhir pada gue repurchase barang ini. Ya, gue akui gue cocok sekali dengan eyebrow powder ini. Bentuknya seperti eye shadow yang solid, dilengkapi juga dengan mini brush yang cucok banget. Yang pali gue suka adalah warnanya, pas banget untuk natural look. Satu kemasan ada dua warna, hitam dan cokelat. Agar lebih alami, gue pakai yang cokelat. Warna cokelatnya cocok hampir di semua warna kulit Indonesia menurut percobaan yang gue lakukan pada beberapa temen gue. Kalian bisa beli eyebrow powder ini di toko kosmetik pinggiran semacam di Depok Town Squre kok. Harganya ga mahal, cuma Rp 35,000 saja.

#5 Maybelline Gel Eye Liner Lasting Drama

Tunggu kelanjutannya ya!

 

Diposkan pada Tulisan

Kami dan Senin

Demi Senin yang banyak dibenci orang,
tolonglah anak kebingungan ini.
Serpihan nominal dan tuntutan lain yang saling tubruk.
Lepaskan ia untuk mencerca apa yang semestinya ia cerca.

Bagi kalian yang bisa menolong—tak apa jika kalian bukan senin, atau tidak begitu dibenci orang

Tolonglah anak ini…